Presiden Trump kembali menyorot Kanada dalam perang tarifnya. Kali ini bukan cuma ancaman biasa, melainkan kebijakan konkret yang membuat produk Kanada kena bea masuk hingga 50 persen. Banyak orang Kanada dulu memang ingin lebih diperhatikan Amerika Serikat, tapi perhatian yang datang sekarang justru terasa dingin dan tidak ramah.
Awalnya Trump sempat bicara soal aneksasi, mengatakan Kanada tidak bisa bertahan tanpa dukungan AS. Setelah itu muncul kebijakan tarif yang lebih nyata. Pada April 2025, Kanada sempat terhindar dari gelombang tarif “Liberation Day” berkat perjanjian perdagangan bebas yang sudah ada dengan AS dan Meksiko. Namun bulan ini kesepakatan itu tidak diperpanjang untuk 16 tahun ke depan dan harus dinegosiasikan ulang setiap tahun.
Minggu lalu Gedung Putih mengumumkan tarif baru yang menyasar beberapa produk Kanada, termasuk barang yang sebelumnya dilindungi perjanjian. Alasan yang dikemukakan adalah balasan atas praktik perdagangan Kanada. Bagi pemerintah Kanada, situasi ini sangat sulit. Mark Carney dan para pemimpin daerah tidak bisa begitu saja menyerah karena akan dianggap lemah oleh pemilih domestik.
Salah satu konteks penting yang perlu diperhatikan adalah sejarah panjang hubungan dagang kedua negara yang sudah berlangsung puluhan tahun melalui berbagai kesepakatan. Perjanjian yang sekarang menjadi subjek negosiasi tahunan ini dulunya dianggap stabil, tapi kini berubah menjadi alat tekanan politik. Perubahan ini bisa memengaruhi perencanaan jangka panjang perusahaan yang bergantung pada kepastian aturan perdagangan.
Dampak lain yang patut dicermati adalah kemungkinan kenaikan harga barang di pasar Amerika sendiri. Ketika tarif dinaikkan, biaya impor naik dan sering kali dibebankan ke konsumen akhir. Produk Kanada yang masuk ke rantai pasok manufaktur AS bisa ikut terdampak, meskipun belum ada angka pasti berapa besar kenaikan harga yang akan dirasakan.
Kanada kini berada di posisi yang tidak menguntungkan. Di satu sisi harus menjaga martabat di mata publik dalam negeri, di sisi lain tetap berusaha menjaga hubungan ekonomi dengan tetangga terdekatnya. Belum jelas bagaimana negosiasi tahunan ke depan akan berjalan, tapi satu hal yang pasti: tekanan politik di dalam negeri membuat setiap langkah Ottawa harus hati-hati.
Situasi ini menunjukkan bahwa perang tarif bukan hanya soal angka bea masuk, melainkan juga soal dinamika politik dalam negeri masing-masing negara. Bagi Kanada, pilihan untuk bersikap keras atau lunak sama-sama berisiko.
