Di sudut-sudut gelap internet, sekelompok pria saling mendorong untuk melakukan tindakan masturbasi di tempat umum, khususnya di toko Dollar Tree, lalu merekam dan membagikan videonya. Perilaku ini disebut ‘gooner assaults’ dan mulai menimbulkan kekhawatiran karena menyasar wanita yang sedang berbelanja.
Aksi ini bukan sekadar prank biasa. Para pelaku sengaja memilih lokasi ritel yang ramai pengunjung perempuan, lalu merekam prosesnya dari jarak dekat. Video tersebut kemudian diunggah ke komunitas online tertentu sebagai bentuk hiburan bagi anggota kelompok.
Salah satu aspek teknologi yang memperburuk situasi adalah penggunaan platform forum anonim dan grup pesan terenkripsi. Teknologi ini memungkinkan koordinasi tanpa jejak identitas yang mudah dilacak, sehingga pelaku merasa lebih aman untuk merencanakan dan mendokumentasikan aksinya.
Dampaknya tidak berhenti di toko. Ketika video disebarluaskan secara digital, korban mengalami trauma berulang karena rekaman tersebut bisa terus beredar tanpa bisa dihapus sepenuhnya. Ini menunjukkan bagaimana teknologi berbagi konten memperpanjang penderitaan korban jauh setelah kejadian fisik berakhir.
Toko ritel sendiri seringkali hanya mengandalkan kamera pengawas standar yang tidak selalu mampu menangkap detail pelaku yang sengaja bersembunyi di sudut gelap. Kurangnya integrasi sistem pengawasan canggih membuat deteksi dini menjadi sulit.
Masyarakat perlu lebih waspada terhadap konten yang beredar di internet, terutama yang mendorong perilaku merendahkan orang lain. Kesadaran digital menjadi kunci agar tren semacam ini tidak terus menyebar dari layar ke dunia nyata.
