Rachel Chinouriri: Dari Panik Attack ke Pemahaman Diri yang Lebih Baik

0 0
Read Time:1 Minute, 30 Second

Rachel Chinouriri baru saja merasakan momen yang benar-benar berat di awal karirnya. Di Oktober 2017, saat pertama kali tampil sebagai musisi profesional mendukung Celeste di klub anggota Laylow London, ia mengalami serangan panik mendadak. Alih-alih mundur, ia memutuskan tetap naik panggung meski setengah menangis. Pengalaman itu jadi titik balik penting baginya.

Sejak kecil, Rachel sudah menghadapi bullying rasial yang membuatnya merasa tidak nyaman di lingkungan sekolah. Masuk ke Brit School, tempat yang melahirkan banyak bintang seperti Adele, justru menambah tekanan. Pertama kali bernyanyi di depan teman sekelas, ia malah menangis setelahnya. Kebiasaan itu sempat jadi momok, tapi ia belajar menghadapinya secara bertahap.

Manajernya sempat menyarankan pulang dan coba lagi lain waktu, tapi Rachel merasa itu justru memperburuk rasa bersalah. Ia memilih terus tampil dan menyadari bahwa skenario terburuk di kepalanya jarang terjadi. Tekanan industri musik yang ia bayangkan ternyata tidak sebesar yang dipikirkan.

Sekarang, setelah album debutnya sukses dan didukung banyak musisi top, Rachel merasa lebih mengerti siapa dirinya sebenarnya. Ia tidak lagi terlalu percaya diri berlebihan seperti di usia 20-an awal, tapi justru lebih tenang karena memahami batasannya.

Dalam konteks industri kreatif saat ini, banyak seniman muda yang menghadapi tantangan serupa karena paparan platform digital yang terus-menerus menampilkan performa sempurna. Hal ini bisa memperbesar kecemasan performa, meski di sisi lain juga membuka peluang koneksi langsung dengan penggemar.

Selain itu, sekolah seni seperti Brit School kini semakin mengintegrasikan pendekatan kesehatan mental ke dalam kurikulum mereka, membantu siswa seperti Rachel membangun ketahanan sejak dini. Pendekatan ini penting agar generasi baru tidak hanya mahir secara teknis, tapi juga siap secara emosional menghadapi industri yang kompetitif.

Rachel kini fokus pada album keduanya dan berharap ceritanya bisa membantu orang lain yang mengalami hal serupa. Ia tidak lagi melihat kegagalan sebagai akhir segalanya, melainkan bagian dari proses belajar yang wajar.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Related posts