Bayangkan pulang kerja lalu minum teh hangat yang disiapkan pasangan, hanya untuk kemudian tertidur lelap dan tak ingat apa pun keesokan harinya. Itulah yang dialami Zoe Watts selama bertahun-tahun. Suaminya diam-diam mencampur obat penenang ke dalam cangkir teh malamnya. Saat Watts terlelap, ia menjadi korban pelecehan seksual yang direkam suaminya sendiri.
Kisah Watts mulai mencuat setelah kasus Gisèle Pelicot di Prancis menjadi berita global. Pelicot juga diracuni suaminya lalu diserahkan kepada puluhan pria asing. Bagi Amanda Stanhope, survivor lain dari Manchester, berita itu seperti angin segar. Ia sadar bukan satu-satunya korban pemerkosaan yang difasilitasi obat (DFSA).
Stanhope sendiri sedang menghadapi mantan pasangannya, David Rogerson, yang saat itu sedang diselidiki karena memperkosa dan merekamnya saat tidur. Kedua perempuan ini kemudian bertemu dan memutuskan untuk angkat bicara bersama. Tujuannya sederhana: memberi tahu publik bahwa kejahatan semacam ini bisa terjadi di dalam rumah sendiri, oleh orang terdekat.
Salah satu tantangan besar korban DFSA adalah minimnya bukti fisik. Obat penenang cepat hilang dari tubuh, sehingga tes medis sering kali sudah negatif saat korban sadar ada yang salah. Akibatnya, banyak kasus tak pernah dilaporkan atau ditolak polisi karena dianggap kurang bukti. Watts dan Stanhope berusaha mendorong perubahan prosedur medis dan pelatihan polisi agar lebih peka terhadap pola ini.
Dampak jangka panjang juga tak kalah berat. Banyak survivor mengalami gangguan tidur kronis, kecemasan berat, dan hilangnya rasa aman di rumah sendiri. Ranjang yang seharusnya menjadi tempat istirahat berubah menjadi sumber trauma. Dukungan komunitas dan terapi khusus trauma menjadi sangat penting, meski layanan semacam itu masih terbatas di banyak daerah.
Keduanya kini aktif berbicara di forum publik dan mendesak pemerintah agar memperketat regulasi obat-obatan yang mudah disalahgunakan. Mereka juga mendorong kampanye kesadaran bahwa siapa pun bisa menjadi korban, tanpa memandang usia atau latar belakang. Langkah kecil seperti memeriksa minuman sendiri atau mencatat gejala aneh setelah minum sesuatu bisa menjadi awal pencegahan.
Perjuangan Watts dan Stanhope menunjukkan bahwa suara korban mampu mengubah narasi. Dari yang tadinya dianggap “masalah pribadi” menjadi isu publik yang perlu ditangani serius. Semakin banyak orang berani bicara, semakin sulit pelaku bersembunyi di balik kedok hubungan intim.
