Setiap pagi pukul enam, Saabiriin Hassan sudah siap di balik meja Cplus Cafe yang berada di pusat Mogadishu. Ia mengenakan celemeknya dengan senyum yang selalu ada, menyambut pelanggan yang mulai berdatangan. Aroma kopi segar langsung tercium begitu biji kopi digiling dan susu dikukus. Hassan termasuk salah satu barista perempuan pertama di Somalia yang ikut membangun budaya kafe baru di ibu kota yang dulu lebih dikenal dengan konflik.
Saat situasi keamanan di Mogadishu mulai membaik, kedai kopi bermunculan dan menjadi tempat berkumpul yang dicari banyak orang. Bukan hanya soal minuman, kafe-kafe ini memberi ruang sosial yang selama ini jarang ada. Perempuan seperti Hassan mendapat kesempatan bekerja di sektor yang sebelumnya didominasi laki-laki. Mereka belajar seni meracik kopi sekaligus berinteraksi langsung dengan pelanggan dari berbagai latar belakang.
Perubahan ini membawa dampak lebih luas bagi masyarakat. Kafe menjadi katalisator yang membantu perempuan memperoleh kemandirian ekonomi sekaligus membuka percakapan santai di ruang publik. Di kota yang masih dalam proses pemulihan, keberadaan tempat seperti ini memberi rasa normalitas yang penting bagi warga.
Selain menciptakan lapangan kerja, fenomena ini juga mendorong diversifikasi ekonomi Somalia yang selama ini bergantung pada sektor tradisional. Kafe modern membuka peluang bagi rantai pasok lokal seperti petani kopi dan pemasok susu, meski skalanya masih kecil. Hal ini bisa menjadi langkah awal menuju ekonomi yang lebih beragam dan tangguh.
Di sisi lain, ruang sosial baru ini berperan dalam kesehatan mental komunitas. Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketegangan, warga Mogadishu membutuhkan tempat aman untuk bertemu tanpa tekanan. Kafe memberi suasana santai yang mendukung interaksi positif dan mengurangi isolasi sosial.
Hassan sendiri mengaku jatuh cinta pada proses meracik kopi. Setiap gerakan, mulai dari menakar bubuk hingga menghias latte, menjadi bagian dari rutinitas yang ia nikmati. Senyumnya yang konsisten bukan sekadar ekspresi, tapi juga cara menyambut pelanggan yang datang mencari kenyamanan.
Budaya kafe yang sedang tumbuh ini menunjukkan bahwa perubahan kecil di level sehari-hari bisa memberi efek berantai. Perempuan yang bekerja di balik konter tidak hanya melayani minuman, tapi juga membantu membentuk citra Mogadishu yang lebih terbuka dan dinamis.






