Di tengah kondisi sulit di Gaza, ada sosok yang masih berusaha mempertahankan pekerjaan yang sudah digeluti puluhan tahun. Ibrahim Naji al-Dabba, pria 49 tahun dengan tujuh anak, setiap pagi naik ke atap gedung rusak di kawasan Tel al-Hawa, Gaza City. Di sana ia merawat barisan sarang lebah yang dikelilingi puing-puing beton akibat konflik.
Sebelum situasi memburuk, Ibrahim memiliki lebih dari 400 sarang lebah yang tersebar di wilayah timur Gaza. Usahanya itu dilengkapi peralatan lengkap, tempat penyimpanan, dan kendaraan untuk mengelola bisnis madu yang menopang keluarganya. Kini hampir seluruhnya hilang, menyisakan hanya 35 sarang yang ia pindahkan ke lokasi baru.
Atap gedung yang ia tempati saat ini memang bukan tempat ideal untuk beternak lebah. Namun bagi Ibrahim, ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap melanjutkan pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan utama. Ia bekerja bersama anak-anaknya, memindahkan sarang dan memastikan koloni lebah tetap sehat meski lingkungan sekitar penuh bekas kerusakan.
Perpindahan dari area Shuja’iyya ke Tel al-Hawa menunjukkan betapa besar dampak konflik terhadap mata pencaharian tradisional seperti ini. Banyak peternak lain kehilangan seluruh aset mereka dalam waktu singkat, dan sulit untuk memulai kembali karena keterbatasan lahan serta akses peralatan. Ibrahim memilih untuk tidak menyerah, meski harus beradaptasi dengan kondisi yang jauh dari nyaman.
Salah satu konteks penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana konflik semacam ini secara sistematis mengganggu rantai pasok produk pertanian dan peternakan kecil. Peternak lebah seperti Ibrahim biasanya bergantung pada mobilitas untuk memindahkan sarang mengikuti musim bunga, namun kendaraan dan jalur distribusi yang rusak membuat kegiatan itu hampir mustahil dilakukan.
Selain itu, keberadaan koloni lebah di area perkotaan yang rusak juga membawa implikasi lebih luas terhadap ketahanan pangan lokal. Lebah berperan penting dalam penyerbukan tanaman, dan hilangnya sarang dalam jumlah besar bisa memperburuk kesulitan warga dalam mendapatkan hasil pertanian yang stabil di masa mendatang.
Ibrahim tetap fokus pada rutinitas harian: memeriksa kondisi sarang, memberi makan lebah jika diperlukan, dan mengajari anak-anaknya cara merawat koloni. Meski jumlah sarangnya jauh berkurang, ia melihat ini sebagai langkah awal untuk membangun kembali usaha secara bertahap. Semangatnya mencerminkan ketahanan banyak orang yang berusaha mempertahankan keahlian turun-temurun di tengah ketidakpastian.
Kisah seperti ini juga mengingatkan bahwa sektor pertanian skala kecil sering menjadi yang paling rentan ketika infrastruktur dasar terganggu. Bagi keluarga yang bergantung pada madu sebagai sumber pendapatan utama, kehilangan sarang berarti kehilangan penghasilan sekaligus identitas pekerjaan yang sudah lama dijalani.
Meski demikian, Ibrahim terus mencari cara agar koloni yang tersisa tetap produktif. Ia memanfaatkan setiap ruang yang ada di atap untuk menempatkan sarang dengan jarak aman, sambil berharap situasi memungkinkan untuk memperluas usaha lagi di masa depan. Ketekunannya menjadi contoh bagaimana individu berusaha menjaga kelangsungan hidup melalui pekerjaan yang mereka cintai.






